Tampilkan postingan dengan label Budidaya Pachypodium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Pachypodium. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Supaya Generasi Baru Pachypodium Lahir Sempurna

Musnah sudah harapan Frans Kusdianto Wiratmahusada menuai laba cepat dari pachypodium. Puluhan ribu biji Pachypodium lamerei dan geayi malas tumbuh. Sejak semai butuh waktu 6-7 bulan sampai siap jual. Setelah 5 kali gonta-ganti media, tanaman siap jual lebih cepat: cukup 3-4 bulan.

Dua tahun penuh Frans menggonta-ganti media semai sampai menemukan ramuan paling pas: sekam bakar dan pasir malang berkomposisi 3 : 1 plus 5% dolomit. Menurut Frans komposisi itu mendekati habitat asli pachypodium. Di alam sukulen itu hidup di daerah gersang berbatu, berpasir, dan cenderung berkapur.

Frans yakin, sekam mampu menyerap asam berlebih, tak mudah lapuk, dan kadar organik rendah. Sementara porositas pasir malang cukup tinggi sehingga mencegah air tergenang. Pasir malang juga mengandung mineral yang berfaedah menguatkan dinding sel sehingga resisten serangan hama dan penyakit. Ketiga bahan itu diaduk rata dan ditaruh di atas tray plastik berlubang di bawahnya. Biji dipendam sedalam 0,5 cm. Setelah 2-3 bulan baru mulai disiram. Hasilnya 70% biji bersemai prima.

Komposisi media itu juga digunakan oleh para pekebun lain seperti Aris Budiman di Yogyakarta, Soeroso Soemopawiro di Jakarta, dan Temi Hernadi di Bandung. Lanny Lingga, pekebun di Bogor, Jawa Barat, memanfaatkan arang sekam, peatmoss, dan perlit. Lapisan arang sekam di permukaan atas; bawah, campuran peatmoss dan perlit yang berkelembapan tinggi. Dengan kelembapan tinggi, ia hanya menyiram sekali sepekan. Alumnus University of New South Wales itu membuat 2 lapisan agar tingkat kelembapan terkontrol. Campuran peatmoss dan perlit cenderung berkelembapan tinggi.

Lanny menyemai biji pachypodium dalam kompot styrofoam ukuran 40 cm x 50 cm. Populasinya 200 biji. Sebelum penyemaian Lanny merendam biji dalam air hangat suam kuku sekitar 40oC ditambah 10 cc zat perangsang tumbuh, selama 1 jam. Setiap 20 menit ia mengganti air agar tetap hangat. Kemudian biji direndam lagi dalam air bersih selama 1 jam. Dalam air bersih, perempuan 38 tahun itu menambahkan setetes giberelin per 200 ml. Setelah itu biji disebar dalam kompot. Dengan cara itu, tingkat perkecambahan biji mencapai 80%.

Lebih cepat

Persentase perkecambahan juga dipengaruhi faktor genetis. Jenis tertentu seperti brevicaule, misalnya, sohor sebagai biji yang sulit berkecambah. Persentasenya cuma 5%. Jenis densiflorum, horumbense, dan mikea mencapai 40%; soundersii dan geayi, 60%. Secara genetis persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada jenis lamerei, sekitar 70-90%.

Hal lain yang mempengaruhi adalah lama penyimpanan biji. Semakin lama disimpan makin lama pertumbuhan. Sebab biji perlu penyesuaian untuk menghilangkan masa dorman. Pekebun lazim menggunakan giberelin untuk mempercepat hilangnya masa dorman. 'Paling lama benih disimpan 2 bulan untuk mendapatkan hasil maksimal,' kata Frans.

Pengemasan yang kurang baik juga mempengaruhi tingkat keberhasilan pertumbuhan. Plastik pembungkus sebaiknya divacum dan diberi pengering. Selama masa pengiriman seharusnya ada dalam refrigerator.

Menurut Lani, di daerah bersuhu tinggi seperti Semarang pertumbuhan pachypodium relatif cepat. Namun, pertumbuhan duri lambat dan bonggolnya tidak sebesar di daerah bersuhu dingin. Biasanya 6 hari pascasemai lahir daun. Namun, daun sejati baru muncul 4 hari kemudian. Dua bulan berikutnya pachypodium dapat dipindah dalam polibag dengan mengikutsertakan media semai ditambah sekam bakar.

Tanaman berduri itu bisa juga diperbanyak dengan setek. Sayangnya setek cenderung membuat bonggol tidak keluar, risiko kegagalan lebih besar, sulit keluar akar, bentuk tajuk kurang bagus, dan hasil perbanyakannya lebih sedikit. Jenis kristata biasa dilakukan grafting (sambung pucuk) karena merupakan jenis yang langka dan lambat pertumbuhannya. Penyambungan dilakukan dengan batang bawah jenis lamerei karena lebih mudah tumbuh. Tingkat kegagalan grafting relatif rendah. (Dyah Pertiwi Kusumawardani).

Dari : Trubus-online.co.id
http://www.petanibunga.com/search/label/Artikel%20Pachypodium

Rabu, 25 Juli 2012

Pachypodium : Tanaman Gurun yang Mulai Diburu

Jangan salah, tanaman ini bukanlah kaktus. Meskipun sama-sama termasuk tanaman gurun, tanaman yang masih satu famili dengan Adenium ini punya keistimewaan sendiri. Selain berduri, tanaman ini pun berbonggol.

Enam bulan lalu, Pachypodium mungkin belum banyak diburu orang. Sepintas bentuknya mirip kaktus karena batangnya berduri. Tak heran jika terkadang orang salah, menganggap ini tanaman kaktus. Tapi kalau melihat bonggolnya, mirip benar dengan Adenium. Tak heran, karena Pachypodium dengan Adenium adalah satu famili, yaitu Apocynaceae. Keluarganya yang lain adalah Plumeria, Nerium, dan Allamanda.

Jadi, tak heran juga jika banyak orang menyebut tanaman yang kebanyakan berasal dari Madagaskar ini sebagai Adenium berduri. "Keunikannya terletak pada batang dan bonggol yang dilapisi duri," papar Kiki Hermanto Bachtiar dari Zha Zha Flora.

Selain tumbuh ke atas mencapai 1,5 meter, ada juga yang melebar ke samping, berbentuk kipas. Jenisnya yang ada di pasaran, seperti P. christata lameri, P. rosulatum grasilis, P. saundersii, dan P. succulentum. Cara pembiakan Pachy selain dari biji bisa dilakukan dengan memotong sebagian batangnya agar tumbuh cabang baru. "Meski dari tanaman yang bagus, tak sayang harus dipotong karena nanti harganya akan lebih mahal."

Tanaman Tahunan
Tanaman yang namanya diambil dari bahasa Yunani ini menyukai hawa panas, dan tidak sulit merawatnya. "Penyiraman cukup sehari sekali dan harus kena panas penuh karena termasuk tanaman gurun," ujar Kiki sambil mengatakan tanaman ini tak pas kalau disimpan di dalam rumah. "Kendala merawat Pachy, paling saat memindahkan tanaman ke media lain harus disimpan dulu di tempat teduh. Baru dua atau tiga hari kemudian bisa diletakkan di tempat panas."

Media tanamnya terdiri dari sekam, pasir malang, cocopeat, dan pupuk kandang. "Lebih bagus kalau banyak pasir malang. Agar hasilnya bagus dan maksimal, media tanam harus baik dan benar." Meski Pachy berbunga, harus sabar menunggu karena butuh waktu lama. "Warnanya ada yang putih, kuning, ungu, dan oranye."

Dari sekitar 60 species, yang digemari penghobis adalah jenis P. rosulatum karena pertumbuhannya yang lambat. "Mungkin karena kalau yang cepat tumbuh, kan, sudah biasa orang lihat. Tak heran jika harga jualnya juga lebih tinggi." Sementara untuk harga Pachy lain, di Zha Zha Flora, dari yang paling kecil jenis P. lameri berkisar Rp 30 ribu. Sementara jenis yang mahal mencapai Rp 25 juta di Jakarta.

Tanaman ini bisa bertahan lama karena termasuk tanaman tahunan. "Hanya saja harus sabar menunggu sampai tinggi. Yang jenis P. lameri saja untuk mencapai tinggi 1,5 meter butuh waktu bertahun-tahun. Perhatikan, jika bibit kecil sudah mulai membesar pindahkan ke tempat yang lebih lebar."

Program Percabangan
Pachypodium bisa diperbanyak lewat cara biji maupun program percabangan. Tidak semua jenis bisa dilakukan program percabangan. Biasanya dipakai yang batang tunggal.

Berikut cara percabangan:
1. Potong bagian batang tanaman yang sehat sampai tersisa 3 cm dari tanah.
2. Beri depin secara merata di atas bagian yang sudah dipotong. Depin dipakai untuk mematikan pertumbuhan bonggol. Selain itu supaya bercabang banyak.
3. Setelah 2-3 bulan kemudian mulai tumbuh cabang yang beraturan dengan bentuk indah.
4. Harga jualnya lebih mahal bahkan bisa dua kali lipat.

Sumber : http://www.petanibunga.com/

Kamis, 19 Juli 2012

Cara Merawat Pachypodium

Pachypodium ini berasal dari Madagaskar, Afrika. Tanaman hias ini merupakan kerabat dekat adenium, tanaman ini mempunyai duri yang mempesona. Duri yang memenuhi sekujur batangnya membuat tampak eksotik. Bahkan ada species Pachypodium yang bagian batangnya ditumbuhi bunga, sehingga menambah indah penampilannya.

Pachypodium menyukai paparan sinar matahari langsung dengan intensitas 70% hingga 8 jam per hari. Dapat beradaptasi di daerah dengan toleransi suhu hingga 20 derajat Celsius dan ketinggian 500m dpl. Media tanamnya yang subur dan porous agar akar tidak membusuk tergenang air dengan pH optimal untuk pertumbuhan 5,5 - 6,5.

Untuk penyiraman dilakukan jika media benar-benar kering. Di daerah lembap atau sejuk, penyiraman dilakukan 4-5 hari sekali. Sementara di daerah sangat terik, penyiraman bisa dilakukan setiap hari. Pupuk yang dapat digunakan antara lain NPK 16:16:6 yang disiramkan ke media dengan dosis 1 sdm pupuk dilarutkan dalam 5 liter air. Berikan juga pupuk daun dengan kandungan N tinggi seperti Gandasil D, Uno D atau hyponex 20-5-20. Komposisinya 2 cc dilarutkan dalam 1 liter air. Pupuk pertama kali diberikan sebulan setelah tanaman dipindahkan ke pot. Selanjutnya pemupukan dilakukan seminggu sekali.

Tip dan Trik Merangsang Pembungaan
Letakkan tanaman di tempat yang mendapat sinar matahari langsung, seperti diatas atap. Sinar matahari yang penuh dapat merangsang pembungaan tanaman ini.

Media untuk mengecambahkan biji Pachypodium antara lain campuran sekam bakar dan pasir malang (3:1) ditambah dolomit 5%. Bisa juga menggunakan campuran peatmoss, perlit dan sekam bakar (1:1:1). Sekam bakar digunakan untuk lapisan atas, sedangkan peatmoss dan perlit untuk lapisan bawah. Hal ini berguna untuk menjaga kelembapan.

Semoga Bermanfaat bagi anda yang sedang merawat tanaman Pachypodium.

Sumber : http://sianakwayang.blogspot.com/
Gambar : http://www.imagejuicy.com/

Senin, 16 Juli 2012

Tips Memindahkan Pachypodium

Bukan hal mudah memindahkan Pachypodium, terutama untuk yang punya banyak duri seperti P. Geayi atau P. Lamerei. Untuk pemindahan seedling ke ke pot bukan masalah karena durinya belum begitu banyak. Apabila tingginya sudah mencapai 20 cm lebih masalah akan banyak terjadi.

Hati-hati dengan Duri
Disini akan dipaparkan pemindahan Pachypodium Lamerei var romusum dengan tinggi 20 cm dan Pachypodium Lamerei tinggi 50 cm. Pastikan terlebih dahulu bahwa Pachypodiumnya dalam kondisi sehat. Waktu untuk pemindahan biasanya sore hari atau pagi hari.

Perhatikan juga kondisi durinya. P. Lamerei terkenal dengan durinya yang tajam. Untuk yang tingginya 20 cm, durinya tanaman hiassudah mencapai panjang 1.5 cm sedangkan yang tingginya 50 cm durinya sudah mencapai panjang 3 cm. Jarak antar duri2nyapun padat, sehingga sulit mencari celah untuk memegangnya.

Perangkat Perang
Sebelum memulai pemindahan, sediakan terlebih dahulu pot untuk memindahkan, media (pasir & kompos 1:1, plus dolomit kalau mau), batu split sebagai dasar di pot dan perangkat pengaduk seperti sekop kecil. Demi keselamatan tangan boleh pakai sarung tangan yang cukup tebal semisal dari kulit.

Sebagai media bantu pengaman duri bisa disiapkan tissue gulung, streofom, spon, moss atau gedebong pisang.
Nah tanaman hiasmedia bantu ini diharapkan tidak merusak duri saat pemindahan. Untuk yang durinya masih pendek cukup digunakan tissue, tapi apabila durinya sudah cukup panjang dan keras penggunaan streofom, spon atau moss (biasa digunakan untuk merangkai bunga).

Satu, Dua, Tiga…
Secara umum ada tiga langkah untuk memindahkan Pachypodium setelah seluruh media disiapkan. Proses ini bisa dilakukan
Langkah I : (gambar 1 dan 2)
Lilitkan tissue gulung pada batang Pachypodium yang berduri pendek. Untuk yang berduri panjang cukup tempelkan streofom (sepasang) pada sisi batang untuk memegangnya. Kadang walaupun berduri panjang, ada juga yang tidak keras. Untuk yang seperti ini bisa gunakan moss, spon atau gedebong pisang.

Langkah 2 : (gambar 3 dan 4)tanaman hias
Miringkan pot lama yang masih berisi Pachypodium. Tahan batangnya dengan tangan. Kalau medianya poros, maka tanaman akan cepat terangkat dari potnya.
Untuk tanaman yang besar harus lebih bersabar dan berhati2. Pakai bantuan sekop kecil untuk mencongkel keluar. Kalau ada akar yang menempel di pot berhati-hatilah mencabutnya. Jangan sampai akar hidupnya terluka. Kalaupun terluka segera beri fungisida secukupnya.

Langkah 3 : (gambar 5 dan 6)
Angkat dan pindahkan Pachypodiumnya dari pot lama ke pot baru. Tidak usah terburu2. Kalau mau dibersihkan dulu tanaman hiasakarnya boleh2 saja tetapi hati2. Setelah dimasukkan ke dalam pot yang baru masukkan secara hati-hati medianya sampai akarnya terbenam semua. Kalau medianya poros dan tidak padat, kadang Pachypodium yang baru direpot akan doyong apalagi bila ukurannya besar. Untuk itu dapat disangga terlebih dahulu sampai padat medianya atau tidak doyong. Untuk itu bisa gunakan penyangga dari bambu saja.

Segarkan Terlebih Dahulu
Proses terakhir adalah adaptasi akar dan tanaman dengan media baru. Untuk itu dapat diberi vitamin B1 dan pupuk untuk akar sesuai takaran dan ditempatkan di tempat yang teduh selama 2-3 hari. Berikan juga air secukupnya.

Bila sudah lewat masa adaptasi maka Pachypodium dapat segera dipindahkan ke tempat yang terbuka dan disinari matahari langsung. Proses pindah pot ini bisa dilakukan 1 tahun sekali kalau memang ingin dilakukan. Tetapi kalau mau 3-5 tahun sekali juga tanaman hiastidak jadi masalah asalkan media mempunyai unsur hara yang terjaga. Pemberian pupuk organik yang bisa memperbaiki struktur media bisa digunakan untuk menjaga unsur hara media Pachypodium.

Selamat mencoba. Jangan takut tertusuk duri, karena proses pemindahan ini pastinya akan tertusuk juga.

Sumber : http://www.kebonkembang.com/

Senin, 09 Juli 2012

Pachypodium Mulai Mengintai

Seribu bibit tanaman setinggi 1-4 cm berbaris rapi di atas rak berukuran 5 m x 1 m dengan tinggi 80 cm. Adenium duri yang berada di rak kelima sebelah kanan pintu masuk greenhouse itu terlihat asri dengan daun ramping berwarna hijau. Itulah Pachypodium lamerei milik Pami Hernadi di Lembang, Bandung, yang disemai sejak 4 bulan silam.

Pachypodium memang mulai mengintai hobiis tanaman hias. Tak hanya di Jawa Barat, tapi juga Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Terbukti beberapa pekebun secara diam-diam sudah mulai menyemai biji anggota famili Apocynaceae itu. Sebut saja Fransiskus Wiratmahusada di Semarang. Pemilik Gamacactus Nursery itu menyemai biji Pachypodium geayi dalam 4 wadah plastik berukuran 30 cm x 40 cm. Masing-masing wadah diisi 200-300 biji. Mereka tersembunyi di antara aglaonema yang terletak di belakang rumah.

Nun di Yogyakarta, Aris Budiman memiliki lebih dari 3.000 bibit P. geayi berumur 2-12 minggu. Mereka diletakkan di atas rak bambu setinggi 50 cm dalam rumah plastik di pojok kiri kebun. Di Tangerang, ada Handry Chuhairy yang telah mengoleksi P. rosulatum sejak pertengahan 2006. Menurut Adeng-sapaan Aris Budiman-pachypodium dilirik lantaran berbonggol dan sifat tanaman mirip adenium. Bandel dan mudah dirawat, ujar Frans-sapaan Fransiskus.

Dengan begitu, pachypodium mudah masuk di hati hobiis adenium yang tergila-gila dengan bonggol unik. Itu yang tengah terjadi di Jawa. Daya tarik lain terdapat pada bunga. Pachypodium memiliki warna bunga yang jarang ditemui di mawar gurun, yaitu kuning. Dengan demikian dapat dikatakan kalau pachypodium generasi adenium berikutnya.

Mahal

Hingga kini, biji masih didatangkan dari luar negeri. Menurut Pami, biji pachypodium di negara asal, Madagaskar, dipanen hanya pada bulan tertentu, Desember-Februari, sehingga ketersediaannya terbatas. Selain itu, daya kecambah biji sangat rendah, cuma 70%. Bahkan ada yang hanya 30%, yaitu jenis P. brevicaule. Dari 1.000 biji yang disemai hanya 300 yang berhasil tumbuh.

Dibandingkan mawar gurun, pertumbuhan pachypodium lebih lambat. Untuk memperoleh rosulatum setinggi 5-7 cm dibutuhkan waktu 8 bulan dari tebar biji. Sedangkan adenium hanya 1-1,5 bulan untuk mencapai tinggi yang sama. Dengan keterbatasan itu wajar bila harga pachypodium lebih mahal.

Lamerei berumur 3-4 bulan dengan tinggi batang 4 cm seharga Rp.30.000-35.000/pot. Bandingkan dengan adenium obesum dengan umur yang sama harganya hanya Rp.5.000/pot. P. geayi berumur 3 bulan dengan tinggi 17-18 cm dijual seharga Rp.60.000-75.000/pot. P. rosulatum lebih mahal lagi. Bibit umur 8 bulan dari semai biji yang tingginya 5-7 cm seharga Rp.200.000/pot. Adenium obesum berumur sama hanya seharga Rp.10.000-15.000/pot.

Jenis

Di antara lebih dari 20 jenis pachypodium, P. lamerei, P. geayi, dan P. rosulatum paling banyak dibudidayakan di tanahair lantaran biji mudah didapat. Dua jenis yang disebut pertama itu tumbuh pada habitat yang sama. Mereka tahan terhadap panas, udara kering, dan butuh sinar matahari penuh. Pertumbuhan tanaman tegak dan cepat. Di Singapura, lamerei umur 14 bulan mencapai tinggi 50 cm. Menurut Adeng, lamerei dan geayi termasuk kategori giant lantaran tinggi tanaman bisa mencapai 20 m.

Lamerei dan geayi berbunga setelah berumur 2 tahun atau ketika keluar cabang pertama. Bunga lamerei berwarna putih dan tengahnya kuning; geayi, putih. Daun hanya menutupi batang paling atas. Bentuknya panjang dan ramping. Di antara semua genus, daun geayi paling panjang, bisa mencapai 40 cm bahkan lebih, tapi lebar hanya 2 cm.

Rosulatum termasuk dalam kategori dwarf. Tinggi tanaman maksimal 1 m. Pertumbuhan anggota famili Apocynaceae itu melebar. Sosok tanaman sukulen itu seperti arabicum, diameter bonggol bisa mencapai 2 m. Bentuk daun lebih oval dan pendek dibandingkan tipe giant. Dalam satu titik terdapat 1-2 duri pendek dan gemuk. Rosulatum dapat berbunga pada umur 1 tahun. Bunga berwarna kuning.

Jenis lain yang tak kalah cantik ada di tangan kolektor dengan jumlah terbatas dan harganya mahal karena pertumbuhannya lama. Sebut saja bispinosum dan brevicaule. Yang disebut pertama merupakan spesies asal Afrika. Sosok tanaman pendek seperti bonsai dan berbonggol.

Brevicaule adalah spesies asli Madagaskar yang pertumbuhannya paling lambat. Ia tidak tumbuh ke atas, tapi ke samping. Dalam 4 tahun, lebar salah satu anggota famili Apocynaceae itu hanya bertambah 2 ruas jari. Itu yang Trubus lihat di kebun Pami. Pachypodium berumur 20 tahun itu hanya setinggi 10 cm dan lebar 21 cm. Batang pendek itu sensitif terhadap dingin, sehingga lingkungan sekitar harus dijaga tetap hangat.

Meski pertumbuhannya lambat, tapi penampilan pachypodium memikat. Batang berbonggol dan warna bunga menarik, kuning dan putih. Pantas bila anggota famili Apocynaceae itu mulai dilirik.

Sumber : Trubus-online.co.id
http://www.petanibunga.com/

Sabtu, 30 Juni 2012

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis

Tanaman hias yang satu ini Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia disekitar awal era tahun 1990-an. Tapi entah kenapa baru di awal tahun 2007 peminat terhadap tanaman ini kembali ramai. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari 1 abad, para peneliti, para pencinta dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang konon terancam punah ini.

Tumbuhan Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup selama jutaan tahun lalu sebelum era jaman batu, merupakan tanaman yang dapat terus berevolusi dan mampu menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang satu ini tetap bisa bertahan hidup dan lestari sampai sekarang ini telah mampumenarik minat para peneliti dan kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18.

Spesies-spesies baru dari tanaman Pachypodium terus dilahirkan, karena mampu berevolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies hibrida baru, tidak hanya pada habitat aslinya (Madagaskar), namun juga di seluruh benua di mana tanaman ini bisa tumbuh dan berevolusi. Konon masih terdapat ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum dapat teridentifikasi maupun terklasifikasi.

Sementara ini baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini pada era tahun 1990-an, jenis yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang dapat dijumpai di Indonesia) dikarenakan kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan oleh negara asalnya (Madagaskar), maupun negara-negara lain di Afrika Selatan.

Meski demikian ada spesies tanaman Pachypodium amat menarik perhatian para pecinta tanaman hias diIndonesia karena bentuk bonggolnya yang berduri dan bentuk daun dan bunganya yang cantik.

Pachypodium adalah tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar, Afrika bagian selatan (Mozambique, Angola, Botswana, Afrika Selatan, Zimbabwe, Namibia, dan Swaziland).

Banyak orang menganggap Pachypodium mirip dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya termasuk dalam golongan tanaman hias palem.

Sumber : http://tanaman.org/