Minggu, 12 Agustus 2012

Produksi Ikan Gabus Skala Komersial

Harga ikan asin gabus, tergolong paling tinggi di antara ikan asin lainnya. Gabus dan sepat, merupakan dua ikan air tawar yang lazim diasinkan. Sepat yang diasinkan, paling banyak berasal dari Kalimantan. Baik sepat kecil, sedang, maupun ukuran besar. Sedagkan gabus asin, bisa berasal dari mana-mana. Tetapi kebanyakan dari Jawa dan Sumatera. Selain dikenal sebagai ikan asin, gabus juga biasa dipanggang seperti halnya tuna dan tongkol, sebelum dipasarkan. Di kota-kota kecamatan di sekitar waduk, danau, setu dan rawa diJawa, akan kita jumpai ikan nila (mujair), lele, sepat, betik, wader, belut, lele, dan gabus. Di Jawa Tengah, gabus biasa disebut kotes, kutuk, atau deleg. Di Kalimantan dinamakan ikan toman.

Daging ikan gabus tergolong bercitarasa sangat lezat. Jauh lebih lezat dibanding ikan lele. Sayangnya, daging ikan gabus berduri kecil-kecil, seperti halnya daging bandeng dan ikan mas. Meskipun duri lembut dalam daging gabus, tidak sebanyak pada ikan mas dan bandeng, karena terkonsentrasi hanya pada bagian atas. Duri dalam daging ikan gabus yang akan mengganggu ketika disantap ini, tetap tidak mengurangi minat para penggemarnya. Hingga permintaan gabus asin terus saja tetap tinggi, dibanding dengan ikan asin lainnya. Di pasar tradisional maupunpasar swalayan, ikan asin gabus tergolong paling tinggi harganya dibanding dengan ikan asin lain.

Selama ini, produksi gabus asin masih mengandalkan tangkapan dari alam, terutama dari sungai, waduk, danau, setu dan rawa-rawa di Jawa serta Sumatera. Penangkapan gabus dari alam ini masih dilakukan secara manual dengan jaring, jala dan pancing. Ikan gabus ukuran di atas 0,5 kg bobot segar (ketika belum diasin), umumnya berasal dari hasil pancingan. Sementara yang kecil-kecil berasal dari jaring dan jala. Proses pengasinan gabus, selalu dilakukan di lokasi penangkapan. Terlebih bila volume ikan yang ditangkap cukup besar. Harga ikan asin gabus ini sedemikian tingginya, hingga para pedagang sering mengasinkan ikan tangkapan ini, meskipun dalam jumlah satu atau dua ekor saja.

Selain merupakan tangkapan dari alam, gabus juga merupakan produk sampingan dalam budidaya ikan air tawar maupun payau. Sebagai predator, gabus akan makan apa saja. Mulai dari kodok, udang, belut, ikan kecil, bahkan kadang-kadang tikus pun ditangkapnya. Sebab gabus bisa tahan berada di daratan dalam jangka waktu agak lama, karena adanya “labirin” yang bisa menangkap oksigen langsung dari udara, selain tentu saja punya insang. Ikan “hama” ini biasanya dijumpai dalam volume yang cukup besar, terutama di tambak udang. Baik udang air tawar (udang galah) maupun udang air payau (udang putih dan windu). Kadang-kadang para petambak membiarkan gabus ini tetap ada di tambak sebagai ikan hama, sebab nilai ekonomisnya juga cukup baik.

Gabus belum bisa diproduksi secara massal sebagaimana halnya lele, ikan mas, nila dan gurami, karena belum bisa dipijahkan secara buatan. Secara teknis, pemijahan buatan pada gabus sama saja dengan ikan lain, terutama sangat mirip dengan lele. Namun secara aplikatif, teknologi pemijahan ini belum bisa diterapkan, karena belum didukung oleh ketersediaan induk, terutama induk betina. Juga belum didukung oleh kesiapan pasar, yakni para peternak yang akan membesarkannya. Sebab beda dengan lele dumbo yang sudah bisa mengkonsumsi pelet, maka gabus sama dengan lele lokal, hanya mau pakan alami. Baik berupa hewan hidup, maupun yang sudah mati. Inilah yang menjadi penyebab, mengapa gabus masih belum bisa dimassalkan sebagaiana lele dumbo.

Meskipun pemijahan gabus secara buatan masih belum dilakukan secara massal untuk tujuan komersial, namun pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan. Sebelum teknik pemijahan buatan bisa diaplikasikan ke ikan mas, maka pemijahan secara alami tetap bisa dilakukan untuk tujuan komersial. Bahkan teknik pemijahan buatan pada lele, baru bisa dilakukan setelah kedatangan lele dumbo. Sementara lele lokal sampai sekaranf tetap belum bisa dibudidayakan. Hingga pemijahan gabus secara alami tetap bisa dikembangkan, selain tetap mengandalkan upaya penangkapan benih dari alam secara manual.

Karena di alam aslinya gabus hidup di perairan dengan lubuk-lubuk yang dalam dan gelap, maka kolam tempat pemijahan gabus memerlukan lubang-lubang buatan. Pemijahan lele lokal yang dikembangkan pada awal tahun 1980an, menggunakan gentong-gentong yang ditaruh miring di dalam kolam. Gentong yang dimiringkan inilah yang dijadikan sarang untuk berpijah bagi lele. Upaya ini relatif berhasil digunakan untuk lele lokal. Tetapi teknik tersebut kemudian tidak berkembang, karena tidak lama kemudian diintroduksi lele dumbo yang bisa dipijahkan secara buatan, serta mau diberi pelet. Sejak itu lele lokal tersisihkan seperti halnya mujair.

Gabus adalah ikan air tawar dari keluarga Channidae. Barangkali karena sosoknya mirip ular, maka gabus juga disebut sebagai snakeheads. Ada dua genera snakeheads, yakni genera Channa yang hidup di Asia dan Parachanna yang terdapat di Afrika. Dari dua genera itu, diperkirakan ada sekitar 30 spesies ikan gabus dengan perbedaan ukuran yang sangat mencolok.Yang paling kecil adalah Channa gachua dengan panjang 25 cm, dan digolongkan sebagai “dwarf snakehead”. Kebanyakan spesies gabus berukuran 60 sd. 100 cm. Dan hanya dua spesies yang mencapai ukuran di atas 1 m. dengan bobot 6 kg, yakni Channa marulius dan Channa micropeltes.

Dari 30 spesies snackhead tersebut, diantaranya adalah: Borna snackhead (Channa amphibeus), Northern snackhead (Channa argus), Channa asiatica, Channa aurantimaculata, Channa bankanensis, Barca snackhead (Channa barca), Rainbow snackhead (Channa bleheri), Channa burmanica, Channa cyanospilos, Channa gachua, Channa harcourtbutleri, Forest snackhead (Channa lucius), Channa maculata, Channa marulioides, Great snackhead (Channa marulius), Channa melanoptera, Black snackhead (Channa melasoma), Giant snackhead (Channa micropeltes), Channa nox, Walking snackhead (Channa orientalis), Channa panaw, Channa pleurophthalmus, Spotted snackhead (Channa stewartii), Snackhead murrel (Channa striata), Parachanna africana, Parachanna insignis, Obscure snackhead (Parachanna obscura).

Selama ini masyarakat menyebut semua snakehead dengan nama gabus. Padahal, gabus kita sebenarnya terdiri dari beberapa spesies. Mulai dari Great snackehead (Channa marulius), Snackhead murrel (Channa striata), Giant snackhead (Channa micropetes), Forest snackhead (Channa lucius) dan Channa gacua. Tiga spesies gabus yang hidup di perairan Indonesia, Great snackehead, Snackhead murrel, dan Giant snackhead, bisa mencapai panjang 1 m. Forest snackhead hanya bisa mencapai panjang 40 cm, dan Channa gacua merupakan snakehead paling kecil, dengan panjang maksimun 20 cm. Channa gacua inilah yang di Jawa Tengah disebut “kotes”.

Great snackehead, pernah diberi nama Ophiocephalus striatus (Bloch, 1793) serta Ophiocephalus vagus (Peters, 1868). Namun nama yang sampai sekarang digunakan adalah Channa marulius (Hamilton, 1822). Dengan panjang bisa mencapai lebih dari 1 m, dan bobor lebih dari 6 kg, Channa striata, Channa marulius, dan Channa micropetes, potensial untuk dikembangkan sebagai ikan budidaya. Sifatnya sebagai ikan predator, bukan merupakan halangan untuk menjinakkannya hingga mau mengkonsumsi pakan buatan. Sebab lele dumbo dan patin pun, sebenarnya juga ikan carnifora. Demikian pula sidat jepang dan kodok Bullfrog dari AS, yang sekarang sudah bisa dibudidayakan secara intensif.

Sebelum upaya pemijahan serta penciptaan pakan buatan berhasil dilakukan, gabus tetap bisa dibudidayakan secara semi intensif. Caranya, pemijahan dilakukan secara alami, dengan kolam mendekati habitat asli gabus. Selanjutnya burayak gabus dikumpulkan, untuk dibudidayakan secara khusus dalam bak, dengan pakan intensif, aerator, serta sirkulasi air. Setelah mencapai ukuran di atas 10 cm, barulah anak gabus ini dibesarkan di kolam yang airnya mengalir. Sebab meskipun gabus mampu bernapas dengan labirinnya dalam lumpur, namun lumpur sungai, danau atau rawa, beda dengan lumpur kolam yang penuh dengan endapan sisa pakan serta kotoran.

Hingga kolam pembesaran gabus, mutlak memerlukan sirkulasi air. Pakan dalam produksi gabus semi intensif, bisa berupa limbah peternakan. Misalnya ayam atau itik yang mati, usus, jeroan ikan dll. Bisa pula agroindustri pembesaran gabus ini dikombinasikan dengan peternakan cacing atau bekicot. Limbah organik akan diolah oleh cacing dan bekicot menjadi kompos, sementara cacing dan bekicotnya akan menjadi makanan gabus. Cara lain adalah, dengan memelihara nila atau mujair biasa. Bukan nila yang 100% jantan. Sebab nila akan mudah sekali berkembangbiak. Anak-anak nila inilah yang akan menjadi pakan alami gabus.

Ikan mas pun, sebenarnya bisa menjadi pakan gabus. Sebab harga ikan mas, jauh lebih murah dibanding gabus. Caranya, kita bisa mengambil benih ikan mas ukuran 10 cm, kemudian dimasukkan ke kolam gabus. Secara periodik, ke dalam kolam gabus itu dimasukan anak ikan mas. Kalau harga ikan mas tidak terpaut banyan dibanding gabus, maka bisa dicari alternatif pakan lainnya. Bisa tawes, karper, patin, jambal air tawar dan lain-lain, yang harganya jauh di bawah gabus. Dengan cara seperti ini, petani ikan akan bisa meraih keuntungan lebih besar.Kalau hasil panen gabus melimpah dan harganya jatuh, masih bisa diasinkan, dengan nilai tambah bagi petani ikan.

Sumber : http://foragri.wordpress.com/

Sabtu, 11 Agustus 2012

Bisnis Budidaya Jamur Kancing Skala Kecil

Selain jamur merang, ada satu lagi jenis jamur kompos yang banyak dibudidayakan masyarakat. Jamur kancing (Agaricus bisporus) yang biasa disebut juga dengan jamur champignon atau button mushroom. Sebagian besar orang mengatakan bahwa bentuk jamur kancing sangat mirip dengan jamur merang, bedanya pada batang di bawah payung jamur kancing terdapat bentuk yang menyerupai sebuah cincin.trans Bisnis Budidaya Jamur Kancing Skala Kecil

Jamur kancing atau champignon ini kabarnya telah dibudidayakan masyarakat sejak abad ke-17 di Perancis. Rasanya yang nikmat seperti daging menjadikan jamur kancing ini digemari banyak konsumen dan dimanfaatkan sebagai peluang usaha. Saat ini tidak hanya industri-industri besar saja yang tertarik membudidayakan jamur kancing, banyak juga pelaku industri rumahan yang mulai membudidayakan jamur kancing dengan skala kecil.

Konsumen
Biasanya jamur kancing dijual dalam keadaan segar ataupun dalam kemasan kaleng. Bagi para konsumen, jamur kancing dijadikan sebagai salah satu bahan pangan yang kaya vitamin, mineral serta bebas lemak. Sehingga tidak heran bila permintaan pasar lokal maupun global semakin hari kian besar, sebab banyak orang mulai memanfaatkan jamur kancing sebagai bahan campuran di berbagai masakan, seperti dibuat pizza, omelet, soup, dll.

Sumber : http://bisnisukm.com/bisnis-budidaya-jamur-kancing-skala-kecil.html

Jumat, 10 Agustus 2012

Budidaya Cumi-Cumi

Kabar gembira bagi para nelayan yang biasa menangkap cumi-cumi di laut. Kini, tak perlu lagi mengalami masa paceklik sejak ditemukannya teknik membudidayakan cumi-cumi.

Indonesia memang sudah terkenal dengan basil lautnya dan merupakan salah satu produsen komoditas perikanan yang memasok produksinya ke berbagai mancanegara. Salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang juga merupakan produk ekspor andalan negara kita adalah cumi-cumi. Itu ditandai dengan nilai ekspor binatang laut yang dikelompokkan ke dalam hewan yang memiliki kaki di kepala ini (keluarga chephalopoda) selama lima tahun terakhir terus meningkat.

Selama ini Jepang, Amerika dan negara-negara Eropa merupakan negara tujuan utama ekspor biota laut yang memiliki nama latin lepiotenhis lessoniana. Di banyak negara cumi-cumi selain dimanfaatkan untuk bahan baku berbagai jenis makanan, juga digunakan sebagai umpan untuk memancing ikan di laut.

Eskpor cumi-cumi yang pada tahun 2001 mencapai 13 ribu ton lebib (senilai US$ 22 ribu) nilai produksi ekspornya menunjukkan peningkatan yang cukup tajam pada tabun 2005. Tahun lalu jumlahnya berlipat menjadi 25 ribu ton lebih (senilai lebih dari US$ 42 ribu). Peningkatan nilai ekspor ini ternyata masih jauh lebih kecil dari kebutuhan cumi-cumi di pasar dunia.

Di Amerika tahun lalu saja membutuhkan 640 ribu ton cumi-cumi. Di saat yang sama Jepang membutuhkan 580 ribu ton, sementara produksi dalam negerinya hanya mampu menghasilkan sekitar 200 ribu ton saja. Sebagai informasi barga cumi-cumi di negara sakura ini kini mencapai US$ 2,5 per kilogram. Dari data ini dapat disimpulkan bahwa peluang ekspor cumi-cumi masih terbuka lebar dan cukup menjanjikan.

Meski hasil ekspor cumi-cumi memperlibatkan tren yang terus membaik setiap tahunnya, bukan berarti selama ini tidak ada kendala yang dihadapi oleh para nelayan dalam berburu cumi-cumi. Hampir seluruh hasil ekspor cumi-cumi Indonesia saat ini masih mengandalkan hasil tangkap dari laut. Artinya pasokan nelayan sangat tergantung dari musim. Seperti misalnya di selat Alas (selat yang menghubungkan antara pulau Lombok dan sumbawa) pada periode Oktober – April merupakan masa panen cumi-cumi, tiap bulannya tangkapan para nelayan rata-rata bisa mencapai lebih dari 100 ton. Sebaliknya selama April – September merupakan saat paceklik cumi-cumi, pada saat paceklik para nelayan ini tentu saja pendapatannya akan menurun bahkan bisa saja terjadi sama sekali tidak ada pemasukan dari basil tangkap cumi-cumi ini.

Selain itu, keberadaan cumi-cumi ini juga sangat tergantung dari kondisi ekosistem terumbu karang. Terumbu karang bagi cumi-cumi merupakan tempat untuk bertelur dan mencari makanan. Sayangnya kondisi terumbu karang di perairan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Departemen Kelautan dan Perikanan total luas terumbu karang Indonesia mencapai 60 ribu kilometer persegi, sementara yang kondisinya dianggap masih baik kurang dari 6%. Sisanya yang 94 % tentu saja sangat buruk keadaannya. Melihat fenomena ini maka bisa diprediksikan bahwa dalam beberapa tahun lagi populasi cumi-cumi akan mulai berkurang. Hal ini tentu saja juga akan mengakibatkan penurunan produksi ekspor cumi-cumi.

Populasi cumi-cumi semakin hari kian terancam keberadaanya, mengingat kini makin meningkat intensitas pencemaran dan kerusakan lingkungan di laut. Hal ini tentu saja akan berpengaruh terhadap ekosistem laut terutama cumi-cumi yang tergolong hewan yang amat peka terhadap pencemaran. Sedikit saja terjadi perbedaan kualitas air akanmenghindar dari kawasan perairan tersebut.

Melihat ancaman yang serius dari keberadaan cumi-cumi ini, Mulyono S. Baskoro, Peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, melakukan penelitian untuk mengembangkan teknik budidaya cumi-cumi. Baskoro pun kini mulai menikmati hasil kerja kerasnya selama ini dalam menemukan teknik membudidayakan cumi-cumi.

Dalam memulai penelitian budidaya cumi-cumi ini, Baskoro memang dihadang berbagai kendala. Diantaranya disebabkan oleh perilaku hewan itu sendiri yaitu belum mau dikawin paksa. Maksudnya hewan ini tetap saja hanya mau bertelur di habitat aslinya. Untuk mengatasi hal ini, Baskoro menemukan sebuah cara yang cukup cerdik, yakni dengan menyediakan tempat khusus untuk induk cumi-cumi bertelur yang disebut atraktor. Atraktor ini dipasang di habitat aslinya. Setelah sang induk bertelur baru telur-telur tersebut dipindahkan ke keramba jaring apung untuk ditetaskan. Lewat cara ini, Baskoro tidak memaksakan induk cumi-cumi untuk bertelur di luar habitatnya.

Atraktor ini sebenarnya merupakan alat sejenis rumpon dengan desain menyerupai bentuk seperti kelopak bunga. Berdiameter 120 cm dan tinggi 35 cm. Untuk membuat alat ini sangatlah mudah. Bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat alat ini pun gampang diperoleh di mana saja. Seperti kawat, tambang dan lembaran plastik hitam yang berfungsi untuk menutup bagian atas rumpon ini. “Untuk membuat satu unitatraktor hanya membutuhkan biaya Rp 300 ribu,” ujar Baskoro.

Pakannya Tak Terlalu Sulit
Alat ini memang dibuat sedemikian rupa agar cumi-cumi betah berada di dalam sarang buatan ini. Di dalam atraktor ini ditempatkan serabut-serabut dari tali agar mirip tumbuhan laut, tempat cumi-cumi biasa meletakkan telurnya. Di bagian atas atraktor ditutup dengan plastik hitam agar kondisi di dalam rumpon ini gelap tak tersentuh cahaya matahari. Ini sengaja dilakukan sebab biota laut yang satu ini memang tergolong hewan yang aktif di saat malam hari.

Meskipun terlihat sederhana namun untuk penelitian membuat sarang bagi induk cumi-cumi ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Baskoro telah melakukan penelitian penggunaan atraktor ini sejak empat tahun yang lalu. Penelitian untuk budidaya cumi-cumi dan penemuan atraktor ini sejatinya memang dilakukan Baskoro untuk menolong para nelayan cumi-cumi. “Ide awal membuat alat ini adalah agar para nelayan tidak kekurangan pasokan cumi-cumi di saat musim paceklik,” ujarnya.

Untuk mempergunakan alat ini, Baskoro menganjurkan agar seyogyanya diletakkan di dasar perairan – sekitar 5 – 7 meter dari permukaan laut – yang memang telah di ketahui menjadi habitat cumi-cumi. Yakni di dasar perairan sekitar terumbu karang dengan kondisi perairan yang jernih dan arus yang tidak terlalu kuat. Biasanya bila melihat tempat yang “nyaman dan asyik” cumi-cumi dewasa akan segera kawin di dalam sarang buatan ini. Idealnya penempatan atraktor ini dilakukan pada saat musim panen cumi-cumi.

Setelah satu bulan diletakkan baru terlihat ada telur cumi-cumi yang diletakkan induknya di alat tersebut. Kemudian selanjutnya telur-telur itu dipindahkan ke lokasi jaring apung untuk ditetaskan. Lokasi jaring apung ini sebaiknya jangan terlalu jauh dengan lokasi penempatan atraktor. Hal ini, selain tidak efisien juga akan menambah resiko rusaknya telur saat dipindahkan. Sekitar dua minggu setelah dipindahkan baru telur-telur itu akan menetas. Empat bulan kemudian setelah di pelihara di jaring apung dengan padat penebaran sekitar 50 ekor per meter3 cumi-cumi ini siap dipanen.

Seekor induk cumi-cumi rata-rata mampu menghasilkan sekitar 500 butir telur. Pembudidaya cumi-cumi seyogyanya memiliki 10 unit atraktor. Artinya saat masa panen cumi-cumi tiap bulannya mampu mengumpulkan telur cumi sebanyak 5000 buah. “Lewat teknik ini tingkat keberhasilan-nya hingga panen mencapai 85%,” kata Baskoro. Artinya saat panen dari 5000 telur itu akan menghasilkan 4250 ekor cumi-cumi dengan berat sekitar 425 kg. Di tingkat petani harga cumi-cumi saat ini mencapai sekitar Rp 22 ribu per kilogramnya. Jadi dengan produksi sebanyak itu pembudidaya akan mendapatkan pendapatan Rp 9,3 juta.

Mengenai pakan, cumi-cumi tergolong mudah dalam pemberian pakan. Hewan ini tergolong hewan pemakan daging (karnivora) oleh sebab itu semua biota laut yang bisa masuk mulutnya akan dimakan. Seperti kerang, ikan dan hewan laut lainnya. Untuk pemeliharaan juga tidak terlalu sulit. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada pakan yang tersisa di jaring apung. Ini akan mengundang hewan laut lainnya (ikan atau kepiting) untuk mengambil sisa pakan tersebut di dalam jaring. Jika ini terjadi ada kemungkinan jaring akan putus, akibatnya cumi-cumi bisa kabur ke laut bebas.

Satu lagi yang harus menjadi perhatian serius bagi pembudidaya cumi-cumi adalah soal pemilihan lokasi jaring apung, lokasinya harus jauh dari kegiatan industri dan keramaian. Sebab sedikit saja terjadi pencemaran di perairan tersebut maka sudah dapat dipastikan seluruh cumi-cumi peliharaannya akan mati sia-sia. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan pembudidaya itu sendiri.

Sumber : http://budidayanews.blogspot.com/

Lavender: Suka cuaca sejuk, doyan siraman air (2)

Budidaya tanaman lavender tidak begitu sulit. Cukup diberi pupuk kandang dan rajin disiram, lavender sudah bisa tumbuh dengan baik. Disarankan, budidaya tanaman ini dilakukan pada musim hujan.

R. Winardi, pemilik Wins Cultura di Tangerang, Banten mengatakan, budidaya bisa dilakukan dengan menyemai biji bunga lavender untuk dijadikan benih. "Atau kalau ingin lebih ringkas bisa dengan membeli benihnya saja," kata Winardi.

Menurut Winardi, waktu yang dibutuhkan untuk penyemaian dari biji menjadi benih sekitar delapan hingga sembilan bulan. Sedangkan dari benih hingga bisa berbunga butuh waktu enam bulan.

Menurutnya, ada beberapa hal yang harus perhatikan dalam membudidayakan lavender. Bila ingin membudidayakan dalam jumlah besar, sebaiknya tanam di musim hujan. "Pasalnya lavender menyukai cuaca sejuk," katanya.

Pada musim kemarau, intensitas penyiraman harus ditingkatkan untuk menghindari kekeringan. Sedangkan untuk pupuk, cukup menggunakan pupuk kandang. Dengan komposisi campuran tanah dan pupuk sekitar 3:2. "Itu bila menggunakan media polybag," ujarnya.

Untuk jenis tanahnya sendiri sebaiknya pilih yang memiliki kadar keasamaan (PH) sekitar 5,5-6. Biasanya, bila disiram air akan cepat meresap dan tekstur tanah tidak keras.

Ia bilang, lavender bisa mencapai usia produktif hingga lima tahun. Pada usia dua tahun, batang lavender akan semakin tinggi. Saat itu, disarankan untuk rutin memangkas cabang. "Tujuannya agar percabangannya menjadi lebih banyak," ucapnya.

Toni Tegar Sahidi, produsen benih lavender lainnya bilang, fase awal yang terpenting dalam budidaya lavender adalah penyemaian. "Ini fase kritis dan sering gagal di tahap ini," ujarnya.

Ia bilang, dalam penyemaian ini tidak seluruh bibit berhasil dibesarkan. Bagi bibit yang berhasil hidup dan sudah memiliki ketinggian sekitar 5 centimeter (cm), sebaiknya segera pindahkan ke polybag.

Christian Kuswanto, pemilik PT Warna Indah Bintang Agrobis menambahkan, agar wangi tanaman lavender lebih menyebar, sebaiknya pembudidaya menanam dua hingga tiga tanaman lavender dalam satu pot berdiameter 30 cm.

Dengan demikian, bila lavender sudah besar, maka daun-daunnya saling bergesek dan tergores. Inilah yang kemudian mengeluarkan aroma wangi lavender yang menyegarkan.

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/

Rabu, 08 Agustus 2012

Cara Menanam dan Memelihara Lidah Buaya

Lidah buaya adalah tanaman yang mempunyai banyak manfaat, terutama bagi kesehatan manusia, permintaan pun banyak, namun tingkat produksi lidah buaya di Indonesia masih kurang. Oleh karena itu budidaya lidah buaya ini harus ditingkatkan. Untuk meningkatkan produksi lidah buaya, berikut adalah cara budidaya lidah buaya yang baik.

Sebelum melakukan budidaya tanaman lidah buaya dilakukan penyiapan lahan untuk budidaya. Lahan disiapkan dalam keadaan telah dibajak dan digemburkan terlebih dahulu kemudian dibuat saluran drinase dan bedengan. Bendengan dibuat dengan ukuran 1 x 2 meter dan tinggi 30-40 cm dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan.

Budidaya tanaman lidah buaya dimulai dengan melakukan pembibitan terlebih dahulu, pembibitan dilakukan cara vegetatif, bibit diambil dari tanaman induk berupa anakan dengan jalan dicongkel dan diusahakan agar akarnya tidak putus. Anakan yang telah didapatkan ditanam dalam polibag. Lama pembibitan adalah 3-5 bulan.

Setelah masa pembibitan barulah bisa ditanam diareal pembudidayaan. Bibit tanaman lidah buaya ditanam dalam lubang dengan kedalaman kurang lebih 10 cm. Pada waktu penamanan diusahakan agar tanaman lidah buaya tidak berhimpitan dandaun tidak patah.

Pemeliharaan tanaman lidah buaya dilakukan dengan cara memasukan pupuk kandang yang sudah matang sebanyak 2-5 kg pada waktu 1-2 minggu sebelum ditanam. Kemudian setelah pasca tanam dapat diberikan pupuk Urea dan Furadan

Lidah buaya sudah dapat dipanen pada umur 12-8 bulan setelah tanam. Panen berikutnya dilakukan setiap bulan. Pasca panen, pelepah lidah buaya dibawa ke tempat penyortiran. Setelah disortir kemudian dibungkus dan selanjutnya dibawa ke tempat pemerosesan lebih lanjut.

Nah silahkan mencoba, semoga berhasil dan bermanfaat bagi yang membaca.

Atau:

Lidah buaya atau Aloe vera adalah tanaman yang akrab di telinga. Selain sangat mudah perawatannya, tanaman ini pun dikenal punya banyak manfaat dan khasiat.

Lidah buaya biasanya ditanam di dalam pot sebagai tanaman hias. Daunnya berwarna hijau tua sampai hijau pucat; di bagian belakang daun berwarna bintik-bintik putih. Bentuk daun ramping, tebal dan pada bagian tepi bergerigi kecil-kecil.

Bila Anda tertarik menanam dan mengembangkan tanaman ini, berikut ini adalah beberapa tip yang dapat dijadikan panduan.

- Butuh waktu cukup lama buat lidah buaya untuk tumbuh di dalam ruangan. Namun Aloe Vera dapat ditanam di dalam rumah atau pun di luar rumah. Tanaman ini butuh cahaya alami dan akan tumbuh bagus bila memperolah cahaya langsung selama sekitar 4 jam sehari. Warnanya akan kecoklatan bila kontak sinar matahari secara berlebihan. Pada siang hari lidah buaya butuh suhu 68-72 derajat Fahrenheit, dan malam hari 50-55 derajat Fahrenheit.
- Gunakan pot dengan media tanam dan pengairan yang baik. Media tanam yang cocok terdiri atas satu campuran bagian tanah kebun, satu bagian pupuk kandang atau kompos, satu bagian pasir, dan setengah bagian serbuk arang. Media tanam diusahakan dalam kondisi agak ekring, tidak boleh terlalu basah. Karena lidah buaya salah satu jenis succulent, jangan terlalu sering disiram.
- Pastikan tanah atau pasir dalam pot tetap kering sebelum disiram. Pastikan pula ada lubang di bawah pot supaya air dapat mengalir dengan mudah.
- Tanaman yang baru dibeli tidak perlu langsung dipupuk pada tahun-tahun pertama. Tunggu sampai tahun berikutnya
- Pengepotan kembali dilakukan saat media telah menjadi padat dan tanaman sudah memenuhi pot. Pengepotan dapat dilakukan setiap waktu.

Sumber By:
http://properti.kompas.com/
http://wartaberita3.blogspot.com/

Selasa, 07 Agustus 2012

Pedoman Singkat Budidaya Ikan Patin

Ikan patin atau dalam bahasa latin disebut dengan Pangasius Hipothalmus merupakan ikan konsumsi budidaya ikan air tawar unggulan.
Ikan yang daerah penyebarannya meliputi Jawa, Sumatra dan kalimantan ini sering pula disebut dengan ikan jambal, ikan juara, ikan lancang dan ikan sodarin.

A. PERSYARATAN LOKAL

Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh sebuah lokasi sebelum digunakan untuk membudidayakan ikan patin adalah :
1. Tanah dasar kolam harus bertekstur liat lempung, tidak porous dan cukup mengandung humus.
2. Sudut kemiringan lahan berkisar antara 3 – 5 %.
3. Air harus bersih, dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar dari bahan – bahan kimia beracun, minyak dan atau limbah pabrik.
4. Suhu air harus berada dikisaran 24 – 28 derajat C dan memiliki kadar pH diantara 6,5 – 8.

B. TEKNIK BUDIDAYA

a. Persiapan Kolam
Persiapan kolam dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan sumber pakan alami dalam jumlah yang cukup bagi ikan untuk tumbuh. Beberapa tahap persiapan kolam yang harus dilakukan adalah :
1. Pengeringan tanah dasar kolam.
2. Pengapuran tanah dasar kolam dengan menggunakan kapur tohor atau dolomit, dengan dosis 25 kg/100 m2.
3. Pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dengan dosis 25 – 50 kg / 100 m2 dan TSP dengan dosis 3 kg / 100 m2.
4. Kolam diisi dengan air setinggi 3 cm lalu didiamkan selama 3 hari.
5. Proses penambahan air dilakukan sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya ketinggian air kolam maksimal adalah 80 – 120 cm.

b. Penebaran Benih
Setelah usianya mencapai 1 – 3 minggu (panjang 1 inchi), anak ikan patin dapat segera dipindahkan ke dalam kolam pembesaran. Kegiatan tebar benih ini dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu air kolam sedang tidak tinggi.

c. Pemeliharaan
Yang harus selalu diperhatikan adalah bahwa kualitas air harus selalu terjaga dengan baik. Air harus senantiasa diganti setiap kelihatan keruh.

d. Pemberian Pakan
Pakan dapat diberikan sebanyak 2 kali dalam sehari, pada waktu pagi dan sore hari. Dosis pakan per hari adalah sebesar seperlima dari berat badan ikan.

e. Pemanenan
Ikan patin yang dibesarkan didalam kolam dapat dipanen setelah ikan mencapai usia 3 – 4 bulan. Ikan patin dengan ukuran berat anatar setengah kilogram – satu kilogram adalah ikan patin yang paling banyak dicari.

C. NILAI EKONOMI

Ikan patin memiliki beberapa keunggulan, diantaranya dagingnya tebal dan terasa gurih, berlemak dan tidak banyak mengandung duri. Harga jualnya yang stabil dan tinggi membuat usaha budidaya ikan patin ini menjanjikan banyak keuntungan.

Sumber : http://bodee2.blogspot.com/

Senin, 06 Agustus 2012

Lavender: Peluang harum tanaman anti nyamuk (1)

Lavendel atau tenar sebagai lavender (Lavandula angustifolia) adalah tumbuhan dari suku lamiaceae yang memiliki 25-30 spesies. Selain dapat dijadikan sebagai tanaman hias, lavender juga bisa berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Lantaran memiliki fungsi ganda, banyak orang tertarik memelihara tanaman ini. Salah seorang pembudidaya lavender adalah R. Winardi di Tangerang, Banten.

Ia menekuni usaha ini sejak tahun 2007 di bawah bendera usaha Wins Cultura. "Lavender termasuk tanaman hias yang punya banyak kelebihan sehingga banyak penggemarnya," kata Winardi.

Sebagai tanaman hias, lavender memiliki bentuk daun yang bagus dan tebal. Lavender juga memiliki bunga dengan aroma wangi dan sedap dipandang mata.

Tidak saja indah dari segi fisik, lavender juga mampu mengusir nyamuk. Selain itu, "Lavender juga bisa menyerap CO2," kata Winardi.
Tanaman ini tidak disukai nyamuk karena mengandung zat linalool dan lynalyl acetate. Kendati memiliki banyak manfaat, harga bunga ini relatif murah.

Oleh Winardi, bunga ini dibanderol Rp 5.000 per pohon dengan ketinggian 15 centimeter (cm)-20 cm. "Usianya sekitar tiga bulan," ujarnya.

Winardi mengaku, meski peminatnya banyak, tapi pasar lavender pasang surut. Ia bilang, pada 2008-2010 permintaan cukup tinggi dan kembali turun di tahun 2011. "Tetapi tahun 2012 ini sedang membaik lagi," ujarnya.

Lelaki 62 tahun ini menyatakan, bila kondisi pasar sedang bagus, ia bisa menjual 4.000-5.000 pohon setiap bulan. Bila pesanan melebihi kapasitas, ia akan meminta tambahan pasokan dari rekannya yang juga pembudidaya lavender di Bogor.

Dari lavender, Winardi meraih omzet Rp 20 juta per bulan. Ia mengaku pelanggan lavender datang dari semua kalangan, mulai dari korporat, instansi pemerintah, dan kolektor tanaman.

Selama ini, ia banyak menerima pesanan dari wilayah Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Pemain lainnya adalah Christian Kuswanto, pemilik PT Warna Indah Bintang Agrobis di Cengkareng, Banten.

Menurutnya, pasar lavender tak pernah mati mengingat fungsinya sebagai pengusir nyamuk. Christian bilang, saat ini yang masih banyak memesan lavender adalah pemilik kafe, restoran outdoor, dan rumahsakit yang juga memiliki yang banyak tempat di luar ruangan. "Rumah makan atau kafe outdoor perlu lavender untuk mengusir nyamuk," ujarnya.

Dalam sebulan, ia bisa menjual 500 pohon. Dengan harga jual Rp 10.000-Rp 15.000 per polybag, omzet yang diperolehnya sekitar
Rp 7 juta per bulan.
(Bersambung)

Sumber : http://peluangusaha.kontan.co.id/