Kamis, 15 November 2012

Tips & Perawatan Anthurium Spesial

Cara Tangani Daun Bermasalah

Daun jadi elemen penting dalam anthurium. Untuk itulah keberadaan bagian ini tak pernah luput dari perawatan dan perhatian khusus. Segala cara dilakukan demi menjaga kesehatan dan kelangsungan hidupnya.

Beberapa bulan yang lalu, Rudi membeli jenmanii cobra remaja dengan harga Rp 3 juta. Sebagai penghobi pemula, Rudi mengaku masih bingung apa yang harus dilakukan dan apa yang tak harus ia lakukan. Dalam hal itu, metode perawatan yang diketahuinya sangat minim. Baginya, mungkin penyiraman dan pemupukan sudah cukup memanjakan anthuriumnya.

Namun beberapa minggu berselang, bukan keindahan yang ia dapatkan, justru kesuraman daun mulai terlihat. Daun yang semula hijau, lambat laun kian menguning dan keriting. Melihat kejadian itu, Rudi pun panik. Seakan tak tahu apa yang ia lakukan, intensitas penyiraman dan pemupukan pun malah ditambah, demi memenuhi kebutuhan nutrisi tanamannya itu.

Sialnya, bukan kesembuhan dan kesegaran yang ia dapat, beberapa bulan berselang, daun anthuriumnya mulai berubah kuning solid dan akhirnya berguguran. Rasa kecewa jelas terpancar di wajahnya. Pasalnya, bukan harga yang ia sesalkan, harapan agar tanamanya tumbuh besar dan sempurna tak bisa diraih. Jangankan tumbuh bagus, mencapai daun tujuh pun tanamannya tak mampu bertahan.

Masalah yang dihadapi Rudi itu mungkin pernah juga Anda alami. Terutama bagi Anda yang baru beberapa bulan menggandrungi si raja daun asal Brasil ini. Kurangnya pengetahuan tentang pola perawatan hingga intensitas penyiraman dan pemupukan, membuat harapan yang besar pada anthurium jadi sesuatu yang mengecewakan. Bahkan mahalnya harga, tak jarang membuat seseorang jadi paranoid terhadap perawatan.

Beberapa orang menaruh tanaman mahalnya ini dalam ruangan khusus untuk mengkarantina dan menjauhkan kontak dengan orang lain atau tanaman jenis lainnya, agar tanaman tak rusak.

Namun sayangnya, tindakan yang dilakukan secara berlebih tanpa ada ilmu yang mendasarinya ini sangat tidak disarankan. Sebab, menurut Heru Trisaksono dari Ijo Royo Nursery Surabaya, laiknya tanaman yang lain, kehidupan anthurium tak bisa lepas dari faktor lingkungan dan sirkulasi angin yang baik.

Faktor lingkungan biasanya berpengaruh pada suhu, temperatur, dan kelembaban lingkungan hingga sistem pencahayaan. Sedangkan sistem sirkulasi udara, termasuk arah angin masuk dan keluar serta besaran kecepatan angin yang disarankan. Sistem pencahayaan yang baik adalah sekitar 60%, dengan kelembaban cenderung tinggi dan temperatur antara 200 sampai 270 C. Untuk itulah jika ingin mengkarantina anthurium, sebaiknya perhatikan beberapa persyaratan tersebut jika Anda tak ingin kecewa di kemudian hari.

Selain paranoid yang membuat anthurium dikarantina, perawatan over ternyata juga tidak baik buat anthurium. Niat hati mungkin ingin memanjakan anthurium, namun siapa sangka tindakan ini malah jadi boomerang yang dapat menyerang tanaman sewaktu-waktu.

Umumnya, tanda-tanda yang sering muncul pada daun yang diakibatkan karena perawatan over adalah daun berubah jadi warna kuning. Selanjutnya, daun yang menguning itu lambat laun berubah jadi kering dan berwarna kecoklatan. Jika sudah terjadi tahap itu, maka dalam hitungan beberapa hari, daun pun akan berlubang dan rusak.

“Tidak ada yang bisa dilakukan untuk menangani daun yang sudah menguning, selain menunggu datangnya daun baru dan menghindari kejadian ini terulang pada daun yang lain,” kata Heru.

“Untuk itulah, sebelum menentukan anthurium sebagai tanaman yang akan dipelihara, alangkah baiknya jika Anda mencari sedikit informasi mengenai perawatannya. Sebab, secara umum merawat anthurium itu gampang-gampang susah. Jika sudah tahu caranya, merawat anthurium sangat menyenangkan. Dan sebaliknya, tanpa mengetahui proses perawatan, kegiatan pemeliharaan sering berujung frustasi,” lanjutnya.

Intensitas Panas dan Pupuk

Kuning pada daun anthurium tak selalu bagus. Jika jenis variegata semakin kuning malah semakin mahal, tapi kalau warna kuning akibat sakit pada anthurium dapat menurunkan gengsi dan harga jual. Terlalu sering menatap sinar matahari dan terlalu banyak pupuk diduga jadi salah satu penyebab daun berubah kuning. “Seperti halnya makan, segala yang berlebih itu kurang baik,” tandas Heru.

Itu berbeda dengan jenis variegata, kuning yang muncul karena sakit tampak berbeda. Jika pada jenis variegata daun yang berwarna kuning masih tampak segar, warna kuning pada daun sakit akan terlihat lebih suram. Selain itu, pada permukaan tak jarang daun sakit yang berwarna kuning akan terasa sangat kasar, karena adanya beberapa bagian yang rusak.

Pemupukan pada dasarnya tak perlu dilakukan seriap hari. Cukup 1-2 kali dalam seminggu. Proses pemupukan biasanya dilakukan dengan komposisi 10 CC pupuk dicampur dengan 8 liter air dan dilakukan apling tidak sekali dalam 4 hari.

Harap diperhatikan, proses ini sebaiknya dilakukan dengan tepat dan berlebih. Sebab, jika tanpa aturan tanaman akan cepat berubah kuning. Selain itu, penggunaan pupuk slow release sebaiknya diberikan selama sekali dalam 6 bulan saja.

Selain pemupukan, sinar matahari dan suhu yang terlalu tinggi akan mengubah daun jadi kuning. Seperti halnya kulit yang terbakar, sinar matahari juga dapat merusak fragmentasi dan pigmentasi kesehatan daun anthurium. Waktu yang tepat untuk menjemur tanaman adalah sekitar pukul 08.00 sampai 10.00, dimana matahari belum terik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka tanaman akan cepat rusak.

Namun selain beberapa faktor tersebut, warna kuning pada anthurium juga sering terjadi karena faktor usia. Umumnya, anthurium yang sudah keluar tongkol secara otomatis diimbangi dnegan berubahnya warna kuning pada daun.

Sumber : http://tabloidgallery.wordpress.com/2007/11/14/tips-perawatan-anthurium-spesial/

Selasa, 13 November 2012

Panduan Praktis Cara Berternak Ulat Sutra

Persuteraan alam telah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya Cara berternak ulat sutra, jadi pemerintah lewat departemen kehutanan berusaha membina dan mengembangkan aktivitas persuteraan alam tersebut dengan Cara berternak ulat sutra.

Cara berternak ulat sutra ditujukan buat menghasilkan benang sutera jadi bahan baku pertekstilan. Buat melaksanakan Cara berternak ulat sutra, terlebih dulu dikerjakan penanaman murbei, yang adalah hanya satu makanan (pakan) ulat sutera. Selain itu Cara berternak ulat sutra juga pemeliharaan ulat sutra juga perlu di perhatikan agar hasil panennya nanti cukup memuaskan.

Manfaat aktivitas persuteraan alam seperti berikut:

Cara berternak ulat sutra Gampang dikerjakan dan memberikan hasil kurun waktu yang relatif singkat; berikan tambahan pendapatan pada masyarakat khusunya di pedesaan; berikan lapangan kerja untuk masyarakat sekitarnya; mendukung aktivitas reboisasi dan penghijauan; mendukung pengembangan aktivitas persuteraan alam, jadi tulisan ini Cara berternak ulat sutra yang praktis.

Persiapan pemeliharaan ulat sutera

Sebelum berternak ulat sutra diawali, hal-hal yang butuh di perhatikan di dalam Cara berternak ulat sutra adalah:

1. Tersedianya daun murbei jadi pakan dalam Cara berternak ulat sutra, area dan peralatan pemeliharaan dan pemesanan bibit/telur ulat sutera. Penyediaan daun murbei: daun murbei buat ulat kecil berusia pangkas 1 bln. dan buat ulat besar berusia pangkas 2-3 bln; tanaman murbei yang baru ditanam, bisa dipanen sesudah berusia 9 bln; buat pemeliharaan 1 boks ulat sutera, diperlukan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang; daun murbei type unggul dalam Cara berternak ulat sutra yang baik buat ulat sutera yaitu: morus alba, m. multicaulis, m. cathayana dan bnk-3 dan lebih dari satu type lain yang masih didalam pengujian oleh badan Cara berternak ulat sutra di indonesia.

2. Ruangan peralatan dalam Cara berternak ulat sutra yang baik.
Area pemeliharaan ulat kecil dalam Cara berternak ulat sutra baiknya dipisahkan dari area pemeliharaan ulat besar ; pemeliharaan ulat kecil dikerjakan pada area spesial atau pada unit pemeliharaan ulat kecil (upuk); area pemeliharaan kudu memiliki ventilasai dan jendela yang cukup: bahan-bahan dan peralatan yang butuh disediakan yaitu: kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, area daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain; desinfeksi ruangan dan peralatan, dikerjakan 2-3 hari sebelum saat pemeliharaan ulat sutera diawali, memakai larutan kaporit 0, 5% atau formalin (2-3%), disemprotkan dengan merata; seandainya area pemeliharaan ulat kecil berbentuk upuk yang berlantai semen, jadi sesudah didesinfeksi dikerjakan pencucianseperti dalam Cara berternak ulat sutra.

3. Pesanan bibit yang baik dalam Cara berternak ulat sutra.
Pesanan bibit sesuai Cara berternak ulat sutra dengan jumlah daun yang ada dan kapasitas ruangan dan peralatan pemeliharaan; bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum saat pemeliharaan ulat diawali lewat petugas / penyuluh atau segera pada produsen telur; seandainya bibit/telur sudah di terima, kerjakan penanganan telur (inkubasi) dengan baik supaya penetasannya seragam seprti dalam Cara berternak ulat sutra.

Langkah Cara berternak ulat sutra yaitu seperti berikut :

* Penyebaran telur dalam Cara berternak ulat sutra dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tidak tebal; simpan pada area sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari segera, pada suhu ruangan 25°-28° c dengan kelembapan 75-85%; sesudah tampak bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama 2 hari.

Proses aktivitas pemeliharaan dalam Cara berternak ulat sutra meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar dan mengokonkan ulat.
Pemeliharaan ulat kecil dalam Cara berternak ulat sutra.
Pemeliharaan ulat kecil dalam Cara berternak ulat sutra didahului dengan aktivitas hakitate yakni pekerjaan penanganan ulat yang baru menetas dibarengi dengan pemberian makan pertama. ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil; pindahkan ulat ke sasag lantas ditutup dengan kertas minyak atau parafin; pemberian makanan dikerjakan 3 kali 1 hari yaitu pada pagi, siang, dan sore hari; pada tiap-tiap instar ulat akan alami waktu istirahat (tidur) dan pergantian kulit. seandainya sebagian besar ulat tidur ($ 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. pada waktu ulat tidur, jendela/ventilasi di buka supaya hawa mengalir; pada tiap-tiap Cara berternak ulat sutra akhir instar dikerjakan penjarangan dan daya tampung area sesuai dengan perubahan ulat;

Pembersihan area ulat dan pencegahan hama dan penyakit kudu dikerjakan dengan teratur ; penyaluran ulat baiknya dikerjakan pada pagi atau sore hari. Pemeliharaan ulat besar dalam Cara berternak ulat sutra. Keadaan dan perlakuan terhadap ulat besar tidak sama dengan ulat kecil. Dalam Cara berternak ulat sutra, ulat besar membutuhkan keadaan ruangan yang sejuk menurut Cara berternak ulat sutra. Suhu ruangan yang baik yakni 24-26° c dengan kelembaban 70-75%. hal-hal yang butuh di perhatikan didalam pemeliharaan ulat besar yaitu seperti berikut: Ulat besar membutuhkan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas dibanding dengan ulat kecil menurut Cara berternak ulat sutra; daun yang disiapkan buat ulat besar, disimpan pada area yang bersih dan sejuk dan ditutup dengan kain basah; daun murbei yang didapatkan pada Cara berternak ulat sutra besar tak akan dipotong-potong tetapi dengan utuh (berbarengan cabangnya). penempatan pakan diselang-selingi dengan teratur pada bagian ujung dan pangkalnya; pemberian makanan pada Cara berternak ulat sutra besar dalam Cara berternak ulat sutra dikerjakan 3-4 kali 1 hari yakni pada pagi, siang, sore dan malam hari; menyambut ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. pada waktu ulat tidur ditaburi kapur dengan merata; desinfeksi tubuh ulat dikerjakan tiap-tiap pagi sebelum saat pemberian makan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi dengan merata; pada instar iv, pembersihan area pemeliharaan dikerjakan sekurang-kurangnya 3 kali, yakni pada hari ke-2 dan ke-3 dan menyambut ulat tidur; pada instar v, pembersihan area dikerjakan tiap-tiap hari; layaknya pada ulat kecil, rak/sasag diletakkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang diisi air.seandainya lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen supaya ditaburi kapur buat menghindari kelembapan tinggi.Mengokonkan ulat dalam Cara berternak ulat sutra.

* Menurut Cara berternak ulat sutra pada hari ke-6 atau ke-7 ulat umumnya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. sinyal tanda ulat yang akan mengokon yaitu seperti berikut: nafsu makan berkurang atau berhenti makan sekalipun; tubuh ulat jadi bening kekuning-kuningan (transparan); ulat condong berjalan ke tepi; dari mulut ulat keluar serat sutera. seandainya sinyal tanda tersebut telah tampak, jadi butuh diambil tindakan seperti berikut: kumpulkan ulat dan masukkan ke didalam alat pengokonan yang sudah disediakan dengan langkah menaburkan dengan merata. alat pengokonan yang baik untuk Cara berternak ulat sutra yaitu: rotari. seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung) Cara berternak ulat sutra.

* Panen dan penanganan kokon dalam Cara berternak ulat sutra.
Panen dalam Cara berternak ulat sutra dikerjakan pada hari ke-5 atau ke-6 sejak ulat mulai buat kokon. Menurut Cara berternak ulat sutra sebelum saat panen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati di ambil lalu dibuang atau dibakar. Penanganan kokon dalam Cara berternak ulat sutra meliputi aktivitas seperti berikut :P embersihan kokon dalam Cara berternak ulat sutra, yakni menyingkirkan kotoran dan serat-serat pada lapisan luar kokon; seleksi kokon, yakni pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat/jelek; pengeringan kokon, yakni penanganan terhadap kokon buat mematikan pupa dan kurangi kandungan air dan supaya bisa disimpan didalam waktu waktu spesifik; penyimpanan kokon, dikerjakan seandainya kokon tidak segera dipintal/dijual atau menanti proses pemintalan.

Langkah penyimpanan kokon dalam Cara berternak ulat sutra yaitu seperti berikut : dimasukkan ke didalam kotak karton, kantong kain/kerta; diletakkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab; sepanjang penyimpanan, sekali-sekali dijemur lagi di cahaya matahari; lama penyimpanan kokon bergantung pada langkah pengeringan, tingkat kekeringan dan area penyimpanan dalam Cara berternak ulat sutra.

Sumber : http://caraberternak.com/cara-berternak-ulat-sutra/

Senin, 12 November 2012

Budidaya Ikan Baronang

1. PENDAHULUAN

1) Latar Belakang
Ikan baronang adalah salah satu jenis komoditas yang potensial untuk dikembangkan mengingat harganya yang cukup mahal. Saat ini sudah banyak masyarakat yang membudidaya-kannya dengan menggunakan benih dari alam. Sejak tahun 1988 ikan baronang sudah dapat dibenihkan dengan berbagai upaya baik secara alami maupun penggunaan hormon dan stripping.

2) Persyaratan Lokasi
a. Sumber air laut bersih dan jernih sepanjang tahun.
b. Bebas dari pencemaran.
c. Dasar perairan laut berpasir atau berkarang.
d. Dekat dengan lokasi pemasaran/pemasok induk

2. TEKNIK PEMBENIHAN

1) Bahan
a. Induk ikan jantan dan betina perbandingannya 1 : 1.
b. Bak pemijahan.
c. Bak penetasan.
d. Bak pemeliharaan larva.

2) Seleksi Induk
Induk yang matang telur hasil pembesaran dalam kurungan apung dipindahkan ke dalam bak-bak pemijahan dengan volume air + 3 m3.

3) Metoda Pemijahan
Metoda yang digunakan adalah pemijahan alami, pemijahan dengan rangsangan rangsangan hormon dan pemijahan dengan stripping.

a. Pemijahan alami
Induk ikan baronang umumnya memijah pada bulan gelap, waktu memijah sekitar petang menjelang malam atau dinihari menjelang subuh. Ikan baronang memijah umumnya pada bulan Pebruari s/d September.

b. Pemijahan dengan hormon
Induk ikan yang sudah matang telur dirangsang untuk memijah dengan suntikan hormon gonadotropin. Induk betina disuntik dengan 500 MU dan induk jantan disuntik dengan 250 MU (mouse unit). Biasanya setelah 6 -8 jam ikan akan memijah.

c. Pemijahan dengan stripping
Stripping dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara kering dan cara basah.

c.1. Cara kering
Sel telur hasil stripping dari induk betina dicampur dengan sperma jantan, pencampuran dilakukan dengan bulu ayam/bulu bebek, kemudian dibiarkan selama + 10 menit. Setelah itu dicuci dengan air laut yang telah disaring dan disterilisasi, baru telur dipindahkan ke bak penetasan.

c.2. Cara basah
Sel telur dan sperma hasil stripping dicampur dalam air laut yang telah disterilisasi dan dibiarkan selama + 10 menit, kemudian dicuci dan dipindahkan ke dalam bak penetasan.

A. Pengambilan Sperma
B. Pengambilan telur dengan cara stripping
C. Pencampuran sperma dan telur
D. Diaduk dengan bulu ayam/bebek
E. Pencucian telur
F. Pencucian dengan air mengalir dalam plankton net

Gambar 1. Pemijahan

4) Penetasan Telur

a. Persiapan
Bak penetasan disiapkan dengan dibersihkan menggunakan bahan kimia chlorin dengan dosis 200 ppm. Kualitas air seperti oksigen, pH, salintas, suhu, kecerahan, kandungan gas dan logam berat harus dijaga agar tidak melebihi batas ambangnya.

b. Penetasan
Telur yang dibuahi akan menetas dalam waktu 22 - 24 jam pada suhu air 26 - 280 C. Telur yang tidak dibuahi akan tenggelam ke dasar bak.

5) Pemeliharaan Larva

Larva yang dirawat dengan seksama terutama sesudah kuning telurnya habis. Pada tahap ini larva diberi pakan hidup alami berupa chlorella sp, rotifera dan daging ikan yang dicincang. Dari beberapa macam jenis jasad pakan tersebut tidak diberikan secara bersamaan melainkan disusun menurut jadwal yang tertentu sesuai dengan perkembangan larva.


6) Pengelolaan Kualitas Air

Air laut untuk pemeliharaan larva adalah air laut yang sudah mengalami beberapa saringan, pertama melalui saringan pasir kemudian saringan millipore yang berdiameter 10 dan 15 mikron. Pembersihan tangki harus dilakukan secara periodik dengan menggunakan siphon (pipa plastik), larva telah berumur antara 7 - 20 hari, dasar tangki harus dibersihkan setiap 2 hari sekali, bila larva berumur di atas 21 hari pembersihan dasar tangki dilakukan setiap hari.

Read more: http://zonaikankita.blogspot.com/2012/02/budidaya-ikan-baronang.html

Minggu, 11 November 2012

Musuh Musuh Tanaman Kaktus

Kaktus tergolong tanaman ironi. Meski batangnya penuh duri, keindahannya telah memesona para penggemarnya atau siapapun yang melihatnya. Kaktus dikenal sebagai tanaman "bandel", karena tidak memerlukan perawatan rumit, bahkan tak perlu disiram setiap hari. Meskipun demikian, tak berarti tanaman ini bebas dari serangan hama dan penyakit.

Ketika kaktus terserang hama dan penyakit, keindahan itu pun akan meluntur. Bahkan tak sedikit tanaman yang mati. Oleh sebab itu, perlu pengenalan seksama terhadap musuh-musuh tanaman bandel tersebut.

Kelompok Hama

Ada tujuh jenis hama yang perlu diwaspadai. Pertama, tungau. Jika terserang, seluruh permukaan tanaman berubah menjadi cokelat karena janngan klorofilnya mati. Tungau dapat dikendalikan secara mekanik maupun kimiawi. Secara mekanik, gosok batang kaktus memakai cotton bud atau sikat gigi yang dicelup larutan sabun. Larutan sabun ini terdiri atas 1 sendok makan detergen/sabun colek yang dilarutkan dengan 5 liter air.

Secara kimiawi, tungau bisa diberantas dengan penyemprotan Omite 570 EC (dosis 1-2 gram/liter air). Jika serangan terlalu parah, buang saja bagian kaktus yang terinfeksi.

Kedua, kutu putih (mealy bug). Kaktus yang terserang terlihat kotor, karena tertutup benda seperti kapas kehitaman. Jika belum parah, sikatlah bagian yang terserang dengan sikat gigi/kuas. Kalau sudah parah, semprotkan Basudin (dosis 2 ml/liter air), setiap 10 hari sekali, sampai serangan kutu menghilang.

Ketiga, kutu batok. Hama ini menghisap cairan dalam tanaman, sehingga kaktus berubah jadi kekuningan (seperti daun layu) dan akhimya mati. Dalam keadaan parah, sebaiknya buang saja kaktus yang terserang agar tak menular ke kaktus lain. Jika belum parah, rendamlah kaktus dalam larutan sabun (resep sama seperti memberantas tungau) selama 15 menit.

Keempat, kutu sisik. Permukaan batang kaktus terlihat kotor/kusam, dan pertumbuhannya makin merana. Hama ini sering mengundang kehadiran semut. Secara mekanik, kutu sisik dapat dikendalikan dengan membersihkan permukaan kulit batang mengguna kan sikat halus/kuas. Bisa juga secara kimiawi, dengan menyemprotkan Decis 2,5 EC (dosis tertera pada kemasan).

Kelima, cacing. Bagian yang diserang adalah akarnya, sehingga akar menjadi rusak, tak berfungsi, dan akhimya tanaman mati. Untuk menghindarinya, sebelum menanam akar disterilkan dulu dengan alkohol 70%. Bisa juga mencampurkan furadan dalam media tanam.

Keenam, semut. Semutmenyerang akar dan tunas muda, sehingga bagian itu rusak. Sebaiknya singkirkan semut dengan menjemur kaktus di bawah teri matahari. Lakukan pembersihan terhadap lingkungan sekitar tanaman.

Ketujuh, tikus. Hewan ini akan melahap buah kaktus yang masak atau menggerogoti batangnya (pada golongan yang tidak berduri seperti Gymnocalycium). Untuk mengendalikannya, pasang perangkap tikus di sekitar kaktus dan bersihkan sampah di lokasi tanaman.

Kelompok Penyakit

Sedikitnya ada lima penyakit yang kerap menyerang tanaman kaktus, yaitu 1) busuk pangkal batang, 2) busuk bakteri, 3) penyakit tepung, 4) layu fusarium, dan 5) kapang jelaga.

Penyakit busuk, pangkal batang disebabkan oleh jamur. Batang yang terinfeksi akan busuk dan berwama cokelat tua. Selanjutnya muncul bulu-bulu putih yang merupakan miselium jamur. Biasanya, tanaman yang sudah parah sulit diatasi, sehingga lebih baik disingkirkan saja. Kalau belum parah, bisa disemprot dengan Benlate T20 KIP (dosis 1-2 gram/liter air). Untuk menghindarinya, pilihlah bibit yang benar-benar sehat dan dalam kondisi prima. Saat menyirami kaktus, usahakan supaya jatuh langsung ke media tanam, bukan menimpa langsung pada tanaman.

Adapun busuk bakteri disebabkan infeksi bakteri Pseudomonas sp. Kaktus yang terserang menjadi layu, kusam, dan sering mengandung lendir putih yang kotor. Tanaman lalu membusuk pelan-pelan, kemudian mati. Untuk mencegah penyakit ini, sebaiknya sterilkan media tanam sebelum digunakan. Kalau sudah terserang, tak ada cara lain kecuali menyingkirkannya agar talc menulari kaktus-kaktus yang sehat.

Penyakit tepung juga disebabkan jarnur. Pemukaan batang kaktus yang terserang akan ditutupi lapisan putih abu-abu. Jika disentuh, lapisan ini akan terasa seperti ada tepungnya. Dalam keadaan sudah parah, pada batang akan muncul bercak-bercak cokelat. Untuk mengatasinya, taburkan tepung belerang pada permukaan batang kaktus yang terserang.

Gejala layu fusarium, batang yang terserang menjadi suram dan layu. Dalam kondisi parah, batang membusuk dan berwama kecokelatan. Jika batangnya diiris, di bawah kulit batang akan terlihat bentuk seperti cincin berwarna cokelat. Sebaiknya jauhkan tanaman yang sakit dari tanaman yang sehat. Setelah itu diobati dengan menyemprotkan Benlate T20 KIP (dosis 1-2 gram/liter air).

Kapang jelaga menyerang batang kaktus, sehingga batang akan tertutup lapisan hitam. Jika disentuh juga terasa bertepung. Apabila sudah parah, batang ditumbuhi jamur berwarna cokelat. Pengobatan dilakukan dengan menabuekan tepung belerang ke permukaan batang yang sakit (Suara Merdeka, Mengenali Musuh-Musuh Kaktus, Jumat 24 Juli 2009)

Sumber : http://www.kesimpulan.com/2009/07/musuh-musuh-tanaman-kaktus.html

Sabtu, 10 November 2012

Memijahkan Oscar Di Akuarium

Ikan oscar, yang memiliki pesona warna tubuh eksotik bagai batik, biasanya dipijahkan di bak semen (kolam) yang berukuran lumayan luas.

Akuarium ditutup koran
Induk oscar yang akan dipijahkan di akuarium, tentu saja harus induk idaman yang sudah lolos dari berbagai macam seleksi. Kriteria induk idaman yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah dari pasangan ideal, sudah cukup umur, tidak ada cacat, dan yang utama kedua induk sudah matang kelamin.

Untuk akuariumnya, digunakan yang berukuran 100 X 50 X 50 cm. Sebelum diisi air, akuarium dibersihkan dan dikeringkan beberapa hari. Untuk memberikan suasana aman, dan sedikit remang - remang, dinding sekeliling akuarium sengaja ditutup rapat bagian luarnya dengan kertas koran. Untuk subtrat penempel telur, bisa memakai sebuah ubin tegel berukuran 20 X 20 cm, yang diletakkan di dasar akuarium. Ubin tegel ini berfungsi sebagai "ranjang pengantin". Sebelumnya perlu disikat bersih agar terbebas dari segala kotoran.

Air di akuarium, kedalamannya cukup 25 - 35 cm. Suhu air juga diatur berkisar antara 25 - 26 derajat Celcius.

Bila semuanya sudah siap, induk oscar ditangkap menggunakan serokan, kemudian dimasukkan secara perlahan ke dalam akuarium yang sudah diservis menjadi kamar pengantin. Selang sehari kemudian, biasanya (dini hari) akan terlihat kumpulan telur Oscar di atas ubin tegel.

Segera setelah terlihat kumpulan telur Oscar, pasangan induk sebaiknya dipindahkan ke tempat lain. Di tempat tersebut, jangan lupa untuk memberikan pakan yang bergizi atas jerih payahnya semalam, misalnya berupa udang segar atau pun cacing tanah.

Telur - telur hasil pemijahan, tetap dibiarkan di dalam akuarium untuk ditetaskan. Selama masa penetasan ini, perlu dimasukkan selang aerator yang dipasangi batu aerasi (air stone) untuk mensuplai persediaan oksigen. Bila tak ada aral melintang, menjelang 2 hari kemudian, biasanya mulai terlihat anak - anak Oscar yang berukuran lembut dan berenang naik - turun.

Merawat benih
Mulai hari ke - 4, benih oscar biasanya sudah mulai berenang bebas. Pada saat ini, berikan makanan berupa kutu air (daphnia) yang telah disaring. Dua minggu kemudian, penjarangan oscar sudah mulai dilakukan. Caranya, benih dipindahkan ke tempat yang lebih luas (misalnya, bak/kolam semen).

Ditempat barunya ini, diusahakan agar kondisi airnya sama dengan kondisi air akuarium tempat perawatan sebelumnya. Suplai oksigen melalui aerator tetap dilaksanakan dan mulai diperbesar kekuatannya.

Dari sepasang induk Oscar yang dipijahkan di akuarium, biasanya dapat dihasilkan 1.000 - 1.500 ekor benih ikan Oscar.

Sumber : http://nirwanaaquarium.blogspot.com/search/label/Oscar

Jumat, 09 November 2012

Ikan Oskar ( Astronotus ocellatus ), Pemeliharaan dan Budidayanya

Salah satu jenis ikan hias air tawar yang digemari oleh konsumen baik didalam negeri maupun luar negeri adalah ikan oskar. Selain karena penampilannya yang menarik ikan oskar juga termasuk yang tidak sulit pemeliharaannya. Berasal dari sungai-sungai di Amerika Selatan, ikan oskar mempunyai bentuk hampir sama dengan Gurame, agak lamban geraknya dan tenang, tetapi mempunyai kombinasi warna yang menarik. Warna dasarnya coklat tua atau coklat muda dan sedikit kuning bercampur merah tua. Di pangkal ekornya terdapat warna merah tua yang menutupi sepertiga badannya dan tampak seperti lukisan, sehingga oskar tampak anggun.

Disamping itu ada jenis oskar lainnya, yaitu oskar albino. Tubuhnya berwarna krem pucat seperti penderita albino dan mempunyai bercak-bercak merah orange di badannya. Bentuk tubuh dan perilaku oskar albino tidak berbeda dengan oskar lainnya. Sebagaimana layaknya ikan oskar mempunyai kelebihan inteligensia yang cukup cerdas. Dia akan berenang ke tepi akuarium bila pemiliknya memberi tanda dengan tangan. Selain itu sifatnya setia dengan pasangannya masing-masing dan suka bergerombol. Karena sifatnya sosial, maka dalam satu akuarium jumlah ikan ini bisa dimasukkan 6 - 8 ekor. Dan akuarium yang digunakan berukuran besar, paling tidak panjangnya 1 - 1,2 meter. Ini mengingat ikan oskar sifatnya yang rakus makan, sehingga sering mengeluarkan kotoran, dan mengakibatkan air dalam akuarium cepat kotor. Kalau akuariumnya besar, tidak perlu terlalu sering diganti airnya. Untuk ukuran akuarium yang paling kecil 60 X 40 X 40 cm untuk per pasang.

MEMELIHARA IKAN OSKAR
Di alam aslinya oskar hidup bergerombol di air yang agak tenang, terlindung dan dalam. Yang disukainya adalah sungai yang dasarnya berpasir batu, air yang jernih, dan di sekelilingnya terdapat akar-akar pohon atau batang pohon yang tumbang dan terbenam di sungai. Tersebar di daerah luas di Amerika Selatan. Ikan-ikan ini terdapat di Amazone, Venezuela, Guyana, Chili, Argentina, dan Paraguay. Temperatur air yang dibutuhkan antara 72 - 82 derajat Fahrenheit, sedangkan untuk penetasan telurnya membutuhkan suhu 78 derajat Fahrenheit. Air yang disenaginya adalah yang jernih dan mengalir tanpa ditutupi oleh tanaman. Karenanya kalau memelihara ikan oskar harus memperhatikan faktor oksigen dan suhu air agar didapatkan ikan yang baik dan sehat. Sebaiknya memelihara ikan oskar pada akuarium atau bak semen agar mudah menjaga faktor oksigen maupun suhu airnya. Ikan ini termasuk jenis ikan Karnivora atau pemangsa. Untuk itu dianjurkan supaya tidak dipelihara bersama-sama dengan ikan lain dalam satu akuarium atau bak., sebab kalau tidak akan habis digasak olehnya. Pakan sebaiknya diberikan makanan hidup saja seperti udang dan anak ikan mas. Menurut pengalaman para peternak, apabila oskar diberi makanan hidup seperti udang hidup, warna sisiknya menjadi terang terutama warna merahnya.

JANTAN DAN BETINA
Memilih ikan oskar jantan dan betina bagi para peternak ikan hias yang belum berpengalaman merupakan persoalan yang agak sulit. Bagi yang sudah lamapun, kadang-kadang bisa meleset dalam menentukan jenis kelamin ikan ini khususnya pada oskar yang masih muda. Menentukan jenis kelamin oskar, kalau kita sudah tahu rahasianya tidaklah begitu sulit. Pedomannya, ikan jantan dapat diketahui dari sirip-siripnya yang lebih besar atau agak melebar, sedangkan pada ikan betina sirip-sirip ini bentuknya membundar. Dalam hal warna, perbedaan ini juga bisa terjadi, pada oskar jantan warnanya lebih terang.

Kalau kita ingin mendapatkan perbedaan yang meyakinkan tentang jenis kelaminnya, pertama, keluarkan ikan itu dari dalam bak atau akuarium dengan menggunakan serokan ikan. Peganglah tubuhnya erat-erat mulai dari bagian belakang kepala, terus dipijit sampai berakhir dekat anus atau dubur, jangan terlalu keras memijitnya. Kalau terlihat genital papilae atau alat kelaminnya keluar dan bentuknya meruncing, sudah pasti ia berkelamin jantan. Sedangkan pada oskar betina, alat kelaminnya agak pendek dan bentuknya pun tumpul.

MEMIJAHKAN OSKAR
Setelah mengetahui tingkah laku dan kebiasaan oskar serta perbedaan kelaminnya, barulah kita bisa membudidayakannya. Ikan oskar adalah salah satu hewan air yang menjunjung tinggi nilai-nilai "kesetiaan" (tentunya kesetian dalam dunia percintaan ikan). Karena itu kalau hendak menjodohkan pasangan ini, sebaiknya dipelihara sejak masih remaja. Kalau kita sengaja menjodohkannya pada usia dewasa, akan sulit ia hidup berdampingan. Kalaupun bisa, memakan waktu agak lama. Hendaknya kita pelihara lebih dari 6 ekor untuk setiap bak, agar ikan-ikan ini dapat mencari dan memilih pasangan sendiri. Ikan oskar bisa dikatakan matang kelamin pada umur 8 - 10 bulan. Kalau kita rajin mengintip ikan-ikan ini yang sedang berpacaran, ditandai dengan selalu berjalan beriring bersama. Dan biasanya mereka memilih tempat yang romantis di sudut-sudut bak. Kalau dia suka bermesraan seperti ini, barulah pasangan ini kita pindahkan pada tempat khusus yang sudah kita sediakan untuk berbulan madu.

Kebersihan bak harus diperhatikan dengan baik. Bersihkan kotoran yang ada di dasar bak ataupun akuarium, karena kotoran ini dapat menimbulkan amonia yang tidak disenangi Oscar. Menggunakan sirkulasi yang airnya telah disaring akan lebih baik dan tidak banyak memerlukan tenaga. SElain itu pergantian air juga mutlak kita lakukan. Tetapi jangan mengganti air secara total. Cukuplah sebagian saja yang dibuang dan sebanyak itu pula air yang baru kita masukkan.

Akibat pergantian air, ikan yang telah matang kelamin akan terangsang untuk melakukan pemijahan. Pada saat melakukan percumbuan, sang jantan memamerkan kegagahannya kepada sang primadona dengan mengibas-ngibaskan ekornya sambil merentangkan siripnya, dan rahang agak dikuak-an atau digelembungkan seolah-olah ingin mengajak adu kekuatan fisik (berkelahi). Untunglah tindakan ini tidak membahayakan sang kekasih.

Sebelum betina mengeluarkan telur, kedua sejoli membersihkan tempat bertelur dengan mengais-ngais dasar akuarium atau bak. Setelah melakukan tugas ini barulah telur-telur itu dikeluarkan sang betina, kemudian sang jantan menghampiri untuk membuahi telur-telur itu. Jumlah telur yang dikeluarkan bisa mencapai 2.000 butir. Telur oskar menempel pada subtrat. Untuk penempelan telurnya sebaiknya kita beri lempengan batu untuk tempat meletakkan telurnya.

Telur-telur dijaga dan dirawat bersama-sama, tapi sang calon ibu-lah yang selalu menunggu, sedangkan calon bapak berpatroli di sekelilingnya menjaga kemungkinan serangan pihak lawan yang ingin memangsa telur-telurnya. Oskar jantan kelihatan agak agresif. Kadang-kadang sang pemiliknya pun tak luput dari serangan pada waktu ingin memberinya makan.

Telur oskar akan menetas setelah 3 hari saat peneluran.. Bayi-bayi oskar kelihatan dengan perut terbalik keatas. Si buyung ini sudah dapat berenang disekitar orang tua mereka. Pada usia 3 hari anak-anak oskar ini sudah boleh diberi makan berupa infusoria atau phytoplankton. Anak-anak oskar ini sudah pandai berenang dengan bebas pada usia 8 hari dan makanan yang diberikan diganti dengan dapnia atau kutu air. Telur-telur oskar juga bisa ditetaskan dalam bak atau akuarium terpisah dari induknya dengan memindahkan lempengan batu yang berisi telur. Dan diberikan tambahan dengan memakai pompa udara (aerator) yang tidak terlalu besar gelembung-gelembung udaranya. Pada umur kira-kira 1 bulan, anak oskar bisa diberikan cacing rambut atau tubifex.

Sumber : http://nirwanaaquarium.blogspot.com/2011/04/ikan-oskar-astronotus-ocellatus.html

Kamis, 08 November 2012

Teknik Budidaya Ikan Hias Oskar (Astronotus Ocellatus)

Oskar ( Astronotus ocellatus) merupakan salah satu jenis cichlid yang berasal dari Amerika Selatan tepatnya di perairan sungai Amazon. Ikan ini memiliki warna dasar hitam dengan warna batik oranye yang menonjol. Saat ini telah banyak spesies oscar yang telah dikembangkan, diantaranya Tiger Oscar, Red Tiger Oscar, Albino Tiger Oscar, Albino Red Oscar, Gold Oscar, Half Back Oscar dal lain-lain.

Pemilihan Induk
Pemijahan oskar dapat dilakukan pada induk yang telah berumur 1.5 tahun atau dengan panjang tubuh ± 15 cm. Dalam memijah oskar memiliki sifar seperti discus, yaitu ikan ini akan membentuk pasangan sendiri-sendiri. Oleh karena itu seleksi induk oskar dianjurkan dilakukan sejak berumur 5-6 bulan dengan cara mencampurkan 10 ekor atau lebih Oskar dengan jenis kelamin yang berbeda.

Perbedaan induk jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk tubuhnya walaupun tidak terlalu jelas. Induk jantan biasanya memiliki tubuh yang relatif lebih panjang daripada induk betina. Pada masa kawin induk betina biasanya memiliki perut yang lebih gendut.

Persiapan Pemijahan
Pemijahan dapat dilakukan pada bak semen berukuran 150 x 100 x 50 cm dengan ketinggian air 30 cm. Setelah wadah pemijahan dibersihkan, substrat untuk tempat menempelnya telur dimasukkan ke dalam bak. Substrat dapat berupa batu, pecahan keramik lantai atau pipa pvc. Air untuk pemijahan harus jernih dan steril dengan suhu 24 – 280C dan pH 6,5 – 7.

Proses Pemijahan
Perbandingan antara induk jantan dan betina yang akan dipijahkan dalam bak tembok adalah 1 : 2, sehingga dalam satu tembok dapat diisi dua pasang induk. Induk jantan akan mempersiapkan sarang (tempat telur) dan membersihkannya dengan mulutnya. Dua hari kemudian, induk jantan akan menggiring induk betina untuk kawin.

Pemijahan berlangsung pada siang atau sore hari. Apabila telur telah menempel pada substrat, telur segera dipindahkan ke wadah pemeliharaan larva

Penetasan dan Pemeliharaan Larva
Wadah penetasan dan pemeliharaan larva berupa akuarium dengan ukuran 100 x 50 x 50 cm yang diisi air setinggi 30 cm dengan aerasi lemah. Untuk menghindari jamur, air pemeliharaan larva diberi larutan MGO dan MB.

Telur akan menetas setelah 2-3 hari. Larva tidak diberi pakan sampai berumur 4 hari karena larva masih memiliki cadangan kuning telur. Setelah kuning telur habis, larva diberi pakan berupa infusoria hingga berumur 7 hari dan kemudian diberi pakan kutu air.

Merawat Anak Ikan
Setelah berumur 15 hari, seleksi pada anak ikan dapat dilakukan dengan cara memindahkan ke dalam wadah yang lebih luas. Padat tebar di akuarium dan bak tembok sebanyak 10 – 15 ekor/ liter air. Pakan yang diberikan berupa kutu air atau cacing rambut

Sumber :
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya [DJPB].
http://a289431artikel.blogspot.com/2012/01/teknik-budidaya-ikan-hias-oskar.html